BI Larang Keras Transaksi Gesek Tunai Kartu Kredit. Ini 4 Alasannya

Bank Indonesia (BI) melarang keras transaksi gesek tunai. Larangan tersebut tercantum dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.11/11/PBI/2009 sebagaimana diubah dengan PBI No.14/2/2012 mengenai Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK).

Gesek tunai atau yang lebih dikenal dengan istilah gestun ini adalah transaksi penarikan dana tunai dengan menggunakan kartu kredit di pedagang atau penjual (merchant). Saat melakukan gesek tunai, pemilik kartu kredit akan menggesekkan kartunya, seolah – olah sedang berbelanja, namun yang didapatkan bukan berupa barang melainkan uang tunai.

Lantas, apa yang menyebabkan praktik gesek tunai dilarang keras? Mari simak penjelasan dibawah ini !

  1. Agar Industri Kartu Kredit Bisa Tumbuh Sehat Dan Aman

Tujuan larangan gesek tunai adalah agar industri kartu kredit bisa tumbuh sehat dan aman sekaligus dalam rangka perlindungan konsumen jasa sistem pembayaran. Sesuai dengan PBI tersebut, penerbit kartu kredit harus menghentikan kerjasama dengan pihak penjual yang melakukan tindakan yang bisa merugikan pihak Bank sebagai penerbit kartu kredit.

  1. Berpotensi Menjerat Pemilik Kartu Kredit Dalam Pinjaman

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Tirta Segara menuturkan bahwa praktik gesek tunai berpotensi menjerat pemilik kartu kredit dalam pinjaman yang bisa berakhir menjadi kredit bermasalah. Selain merugikan konsumen, hal tersebut juga akan mengakibatkan meningkatnya rasio kredit bermasalah atau non performing loans (NPL) bagi perbankan penerbit kartu kredit.

  1. Rentan Dimanfaatkan Untuk Kegiatan Pencucian Uang

Lebih lanjut, Tirta mengatakan bahwa praktik gesek tunai juga sangat rentan dimanfaatkan oleh pihak – pihak tertentu untuk kegiatan pencucian uang.

  1. Mengakibatkan Kesalahan Persepsi Terhadap Tujuan Kartu Kredit

Tirta menambahkan, praktik gesek tunai juga bisa mengakibatkan kesalahan persepsi terhadap tujuan dari kartu kredit yaitu sebagai alat pembayaran, bukan sebagai fasilitas kredit dalam bentuk uang tunai.

Selain itu, data yang dilaporkan oleh pihak Bank penerbit kartu kredit kepada Bank Indonesia bisa menjadi tidak akurat, karena jumlah nilai transaksi belanja yang sebenarnya lebih kecil dari jumlah nilai transaksi yang dilaporkan kepada Bank Indonesia.

Karena itu, selain menerbitkan peraturan terkait gesekan tunai, Bank Sentral Indonesia juga bekerja sama dengan Asosiasi Kartu Kredit Indonesia, untuk memberikan sanksi kepada pihak – pihak yang memanfaatkan gesek tunai. Sanksi yang diberikan antara lain berupa penghentian kerja sama dengan merchant yang terindikasi kuat melakukan atau melayani praktik gesek tunai.

Related Posts